Jumat, 13 Agustus 2010

Teori Koherensi Kebenaran

JE PENSE DONC JE SUIS (Rene Descartes)
“I Think, Therefore I Am”
"Saya Berpikir, Maka Saya Terbukti Ada"

Secara ringkas, teori koherensi beranggapan bahwa suatu klaim dianggap benar, cukup bila klaim tersebut koheren atau konsisten dengan klaim-klaim sebelumnya yang dianggap benar. Kesesuaian dengan kenyataan (seperti yang disyaratkan dalam Teori Korespondensi ), tidaklah menjadi kewajiban dalam teori koherensi. 

Dalam istilah ilmu logika, teori koherensi berkaitan dengan proses berpikir deduksi, dimana sebuah klaim dianggap benar cukup jika dia konsisten atau koheren dengan premis-premis sebelumnya. Ilmu matematika maupun ilmu hukum sangat banyak memanfaatkan teori koherensi. 
Dalam metodologi ilmiah, teori koherensi digunakan dalam penyusunan model penelitian maupun dugaan-dugaan ilmiah (hipotesis). Jika sebuah model penelitian/hipotesis koheren atau konsisten dengan teori-teori yang ada ataupun dengan kesimpulan-kesimpulan oleh peneliti terdahulu, maka disebut benar. Teori koherensi hanya bersandar pada rasionalitas, dan bukan pada empirisme.

Klaim-klaim terdahulu (argumen) yang digunakan dalam membuat kesimpulan deduktif yang koheren, bisa didasarkan dari klaim yang ditarik dari kenyataan (sesuai teori korespondensi) atau sekedar sebuah konsensus. Semakin luas konsensus atas sebuah klaim terdahulu (argumen), maka akan semakin kredibel klaim yang dideduksi darinya. Pengujian terhadap konsensus yang menjadi argumen itu sendiri, sekali lagi, bisa didasarkan pada kenyataan atau sekedar berdasar konsensus yang lebih diterima luas.
Pendekatan konsensus banyak dipakai dalam ranah politik ataupun sosial, dalam memberikan pembenaran atas sebuah klaim atau tindakan moral.

Contoh 1.  Karena didefinisikan bahwa:
  • 3 = 2 + 1, serta
  • 4 = 3 + 1
  • Maka, dapat dibuat klaim yang koheren dengan kedua pernyataan di atas, bahwa 4 = (2 + 1) + 1
Contoh 2. Jika dianggap benar bahwa:
  • Semua manusia pasti memiliki otak yang berfungsi untuk berpikir, dan
  • Otak yang tidak mendapat pasokan oksigen selama 8 menit akan kehilangan fungsi berpikirnya, serta
  • Bonnie sudah 9 menit tenggelam di air.
  • Maka, dapat dibuat klaim yang koheren dengan pernyataan di atas, bahwa Bonnie bukanlah manusia lagi.
Contoh 3. Jika dianggap benar bahwa:
  • Semua pedagang pastilah selalu mencari untung di dalam jual beli, dan 
  • Beberapa orang yang membuka toko di Roxy menyatakan bersedia menjual barang di bawah harga perolehan.
  • Maka, dapat dibuat klaim yang koheren dengan pernyataan di atas, bahwa Di Roxy terdapat beberapa orang yang sebenarnya bukan pedagang, meskipun mereka membuka toko di sana setiap harinya.
Contoh 4. Jika dianggap benar bahwa:
  • Syarat suatu kegiatan secara hukum dianggap kejahatan jika terdapat pasal yang dilanggar, pelaku, korban, serta barang bukti/saksi, dan 
  • X, seorang pelaku pembunuhan beruntun, telah berhasil menyuap saksi untuk berpihak kepadanya, serta telah berhasil secara diam-diam mengkremasikan barang bukti kejahatannya.
  • Maka, adalah tidak beralasan jika memenjarakan X atas perbuatannya tersebut. Karena tidak ada koherensi antara persyaratan hukum sebuah perbuatan disebut kejahatan, dengan keterpenuhan syarat tersebut.
Dikarenakan ketergantungannya pada ketersediaan premis, atau teori, atau kesimpulan terdahulu, maka teori koherensi semata, tidak bisa menentukan kebenaran atas klaim berikut:
  1. Saat pulang rumah ternyata koran sudah hancur berantakan, maka tidak bisa ditentukan apakah hantu koran ataukah anjing kecil di rumah yang melakukannya.
  2. Apakah baling-baling kipas angin berputar ke kiri ataukah ke kanan.
  3. Botol parfum berikutnya akan sewangi sebelumnya.
Sumber:
  1. Lorens Bagus. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Truth
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Coherence_theory_of_truth
  4. http://plato.stanford.edu/entries/truth-coherence/
  5. http://www.philosophyprofessor.com/philosophies/coherence-theory-of-truth.php
  6. http://www.informationphilosopher.com/knowledge/coherence.html
  7. http://www.iep.utm.edu/truth/
  8. http://philpapers.org/browse/coherence-theory-of-truth

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar